urgensi dan sejarah epistimologi islam (sem5)
Pengertian epistimologi:
Merukapan salah satu cabang filsafat yang
membahas tentang suatu hakikat, maka kandungan, sumber dan proses ilmu.
Dalam Bahasa Arab, epistimologi islam
adalah Nazariyyah Al-Ma’rifah
Sejarah epistimologi Islam
Dalam Al-Quran surat Isra’ ayat 36 sebagai
berikut:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ
لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ
كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
Beberapa hikmah dari surat Al-Isra ayat 36, yaitu:
- Hikmah dari surat Al-Isra ayat 36 adalah Kedudukan
pengetahuan: Ayat ini menekankan pentingnya memiliki pengetahuan yang
benar sebelum mengambil tindakan atau mengikuti suatu hal. Ini mengajarkan
bahwa pengetahuan yang baik dan benar merupakan dasar yang penting dalam
Islam. Dalam konteks epistemologi Islam, penting untuk mencari pengetahuan
yang berasal dari sumber yang sahih, seperti Al-Quran dan hadis, serta
menghormati metode ilmiah dan penalaran yang sehat.
- Pengetahuan
yang komprehensif: Ayat ini menekankan pentingnya menggabungkan
pengetahuan dari berbagai sumber, termasuk pendengaran, penglihatan, dan
hati. Ini menunjukkan bahwa epistemologi Islam mengakui nilai pengetahuan
yang didapat melalui pengalaman indrawi (pendengaran dan penglihatan)
serta pengetahuan intuitif atau spiritual (hati). Hal ini mengajarkan
pentingnya memperoleh pengetahuan dengan cara yang holistik dan
komprehensif.
- Tanggung
jawab individu: Ayat ini menunjukkan bahwa setiap individu bertanggung
jawab atas pengetahuan yang dimilikinya dan bagaimana ia menggunakannya.
Dalam epistemologi Islam, individu memiliki tanggung jawab untuk mencari
pengetahuan yang benar, mengembangkan pemahaman yang baik, dan menggunakannya
untuk kebaikan diri sendiri dan masyarakat. Ini mendorong individu untuk
menjadi reflektif, kritis, dan bertanggung jawab dalam mencari dan
menggunakan pengetahuan.
- Kewaspadaan
terhadap kesalahan: Ayat ini juga menekankan pentingnya berhati-hati dan
berpikir secara kritis sebelum mengikuti suatu hal. Ini mengingatkan bahwa
epistemologi Islam mendorong individu untuk berhati-hati terhadap
pengetahuan yang tidak jelas, tidak sahih, atau tidak memadai. Ini
membangun kesadaran terhadap bahaya pengetahuan yang salah atau pemahaman
yang dangkal.
Dinamika sebuah epistimologi islam ada 3
yaitu:
1. Zaman
periode klasik
2. Zaman
periode penengah
3. Zaman
periode modern
Ahli filsafat islam, berpendapat terkait
Epistimologi Islam:
a. Al-Kindi:
bahwa ilmu pengetahuan terdapat 3 jalan, yaitu: Indra, Akal dan wahyu
b. Al-Farabi:
bahwa semua ilmu pengethuan berasal dari Indra
c. Ibnu Sina:
ilmu pengahuan berasal dari filsafat teoritis dan filsafat Indra
d. Al-Ghazali:
Sumber Pengetahun ada 3 jalan: Kasyf, Wahyu dan aql
e. Ibnu Rusyd:
Menyatakan bahwa kebenaran dari realita.
Aliran Pokok Epistimologi:
1. Empiris:
Diperoleh melalui panca indera
2. Rasionalisme:
dominasi antara akal dan ide universal alam
3. Intuitionsme:
peran intuisi melampui batas indra dan rasa
Urgensi epistimologi islam bertujuan untuk
menyeru pada sesuatu yang mendorong kita untuk memecahkan suatu masalah.
Tantangan ahli muslim adalah menyesuaikan
semua pengethuan yang dapat di terima oleh semua kalangan.
Setiap manusia memiliki akal dan
pengetahuan sendiri tapi tetap nerasal dari satu sumber yang sama dengan tujuan
yang sama yaitu mencari ilmu pengetahuan yang selaras.
Akal sangat dominan namun akal harus
berjalan dengan sunnatullah, tanpa sunnatullah akal manusia yang mendominasi
akan berbahaya bagi manusia. Sesuai dengan iman, ilmu dan amal, sebagai fondasi
perilaku dan tingkah laku manusia yang baik.
Komentar
Posting Komentar